********** Masa Indah Itu Datang *********
Diawali dengan hari yang cerah tetapi hatiku tak secerah mentari yang bersinar hari ini karena tepat pada hari ini aku memulai kehidupan baru dan dengan teman yang baru pula.
Aku pun tiba di SMA Negri 88 Jakarta, salah satu sekolah favorit di kota ini. Dengan langkah yang berat aku coba untuk tersenyum memasuki gerbang yang bewarna hijau itu dan berharap bertemu dengan seseorang yang ku kenal. Dan seperti dugaan ku tak ada seorang pun yang ku kenal di sekolahku ini.
Bel berbunyi dan yang lebih malesin adalah upacara! Oh my god... aku pun memilih baris di barisan paling depan. Tiba-tiba di sebelahku sudah ada seorang lelaki yg menurutku lumayan menarik, aku pun berusaha mengalihkan pandanganku dari lelaki tersebut. Upacara pun selesai, upacara kali ini berlangsung cepat karena ini adalah upacara perdana di tahun ajaran baru ini. Aku pun menuju kelas yang sudah diarahkan guru-guru dan senior-seniornya. Sesampainya di kelas aku merasa kaget bahwa lelaki itu berada di kelasku dan di barisanku, yaa lumayan seneng deh..
Penasaran tiba-tiba menghampiriku, aku ingin tau siapa sih nama lelaki itu.
Keesokan harinya akupun kembali berada di sekolah, dua hari MOS ini kami hanya mendengarkan nasehat-nasehat dari guru-guru disini, bosen juga sih. Sewaktu jam istirahat ada seorang senior mengungumumkan besok harus memakai perlengkapan mos seperti yang ditulisnya di depan. Yaa ampun memang sudah tradisi orang indonesia banget yaa kalok mos itu pasti harus kayak orang gila.
Aku melihat jam dan hatiku senang karena sebentar lagi jam menunjukkan pukul 2 tepat dan itu menandakan sekolah telah usai. Dan tiba-tiba … ngubraaaaak.... terdengar suara buku ku jatuh lalu lelaki itu menolongku mengambil buku itu dan aku mengambil kesempatan untuk membaca bed nama yang ada di bajunya itu, “Adi” itulah namanya, kini rasa penasaran itu sudah hilang.
Sunyi menghampiri ketika malam berada dirumah. Hp ku pun bergetar, ada sms dari nomor yang tak dikenal. Aku pun langsung membuka dan membacanya dengan penuh rasa penasaran. Isi smsnya cuma “NISA”, aku pun membalasnya dengan bertanya “siapa ini”. Getar sms pun kembali muncul dan sangat mengejutkan ketika ku melihat balasannya “ini Adi nis hehe” jantungku pun berirama dengan riangnya, sungguh tak menyangka Adi akan sms aku tapi satu hal yang aku bingungkan dari mana dia dapat nomorku? Tapi ya udalah itu semua tidak penting bagiku.
Keesokan harinya tepat pada hari ke-3 mos, dari rumah aku sudah berdandan seperti orang gila demi memenuhi perintah senior yang kemarin. Dengan wajah malu akupun masuk ke dalam kelas. Astaga...... keluh ku. Aku lupa membuat jam dari jengkol. Dengan sibuk aku mencari-carinya di dalam tas ku yang aku sendiri tau bahwa tidak akan ada jengkol di dalam tas ku tapi itulah aku yang sedang kalut. Dengan gayanya seperti pahlawan Adi pun menghampiri meja ku dan bertanya “lagi apa sih nis? Kok sibuk banget sih” lalu aku terdiam semenit dan menjawabnya “aku lupa membuat jam dari jengkol itu” dengan sigap dia kembali ke meja nya lalu membawakan jam dari jengkol untukku. Aku pun merasa senang dan tersipuh malu karena kebaikan Adi. Tak lama kemudian bel pun berbunyi dan kami duduk di bangku masing-masing.
Beberapa saat kemudian senior pun datang ke kelas kami dan membuat permainan yang cukup menyenangkan lah. Saat permainan brlangsung jika ada yang kalah harus dihukum dan hukumannya itu boleh nyanyi, baca puisi, minta tanda tangan dan sebagainya. Adi kalah dan dia dihukum. Dengan langkah tegap dia pun maju dan memilih untuk membacakan sebuah puisi yang sempat tadi malam dikirimnya ke aku. Dia membacakannya dengan lembut dan sesekali melirik kearahku. Oh tuhan hatiku semakin berdetak kencang, aku tak pernah menyangka kejadian ini akan terjadi.
Bel yang dinantikan pun kini telah berbunyi aku pun segera keluar kelas dan pulang kerumah. Sesampainya dirumah jari-jari ini pun mengetik sms dan segera mengirimkannya ke Adi. Seiring dengan berjalannya waktu yang lumayan lama akhirnya Adi pun memintaku untuk menjadi pacarnya dan langsung ku terima dengan senangnya. Tak lama kami jadian gossip pun menyebar di sekolah, tapi kami berdua sih santai aja nanggepinnya. Hidupku terasa sangat bahagia karena cintaku tak bertepuk sebelah tangan.
(bersambung)
Diawali dengan hari yang cerah tetapi hatiku tak secerah mentari yang bersinar hari ini karena tepat pada hari ini aku memulai kehidupan baru dan dengan teman yang baru pula.
Aku pun tiba di SMA Negri 88 Jakarta, salah satu sekolah favorit di kota ini. Dengan langkah yang berat aku coba untuk tersenyum memasuki gerbang yang bewarna hijau itu dan berharap bertemu dengan seseorang yang ku kenal. Dan seperti dugaan ku tak ada seorang pun yang ku kenal di sekolahku ini.
Bel berbunyi dan yang lebih malesin adalah upacara! Oh my god... aku pun memilih baris di barisan paling depan. Tiba-tiba di sebelahku sudah ada seorang lelaki yg menurutku lumayan menarik, aku pun berusaha mengalihkan pandanganku dari lelaki tersebut. Upacara pun selesai, upacara kali ini berlangsung cepat karena ini adalah upacara perdana di tahun ajaran baru ini. Aku pun menuju kelas yang sudah diarahkan guru-guru dan senior-seniornya. Sesampainya di kelas aku merasa kaget bahwa lelaki itu berada di kelasku dan di barisanku, yaa lumayan seneng deh..
Penasaran tiba-tiba menghampiriku, aku ingin tau siapa sih nama lelaki itu.
Keesokan harinya akupun kembali berada di sekolah, dua hari MOS ini kami hanya mendengarkan nasehat-nasehat dari guru-guru disini, bosen juga sih. Sewaktu jam istirahat ada seorang senior mengungumumkan besok harus memakai perlengkapan mos seperti yang ditulisnya di depan. Yaa ampun memang sudah tradisi orang indonesia banget yaa kalok mos itu pasti harus kayak orang gila.
Aku melihat jam dan hatiku senang karena sebentar lagi jam menunjukkan pukul 2 tepat dan itu menandakan sekolah telah usai. Dan tiba-tiba … ngubraaaaak.... terdengar suara buku ku jatuh lalu lelaki itu menolongku mengambil buku itu dan aku mengambil kesempatan untuk membaca bed nama yang ada di bajunya itu, “Adi” itulah namanya, kini rasa penasaran itu sudah hilang.
Sunyi menghampiri ketika malam berada dirumah. Hp ku pun bergetar, ada sms dari nomor yang tak dikenal. Aku pun langsung membuka dan membacanya dengan penuh rasa penasaran. Isi smsnya cuma “NISA”, aku pun membalasnya dengan bertanya “siapa ini”. Getar sms pun kembali muncul dan sangat mengejutkan ketika ku melihat balasannya “ini Adi nis hehe” jantungku pun berirama dengan riangnya, sungguh tak menyangka Adi akan sms aku tapi satu hal yang aku bingungkan dari mana dia dapat nomorku? Tapi ya udalah itu semua tidak penting bagiku.
Keesokan harinya tepat pada hari ke-3 mos, dari rumah aku sudah berdandan seperti orang gila demi memenuhi perintah senior yang kemarin. Dengan wajah malu akupun masuk ke dalam kelas. Astaga...... keluh ku. Aku lupa membuat jam dari jengkol. Dengan sibuk aku mencari-carinya di dalam tas ku yang aku sendiri tau bahwa tidak akan ada jengkol di dalam tas ku tapi itulah aku yang sedang kalut. Dengan gayanya seperti pahlawan Adi pun menghampiri meja ku dan bertanya “lagi apa sih nis? Kok sibuk banget sih” lalu aku terdiam semenit dan menjawabnya “aku lupa membuat jam dari jengkol itu” dengan sigap dia kembali ke meja nya lalu membawakan jam dari jengkol untukku. Aku pun merasa senang dan tersipuh malu karena kebaikan Adi. Tak lama kemudian bel pun berbunyi dan kami duduk di bangku masing-masing.
Beberapa saat kemudian senior pun datang ke kelas kami dan membuat permainan yang cukup menyenangkan lah. Saat permainan brlangsung jika ada yang kalah harus dihukum dan hukumannya itu boleh nyanyi, baca puisi, minta tanda tangan dan sebagainya. Adi kalah dan dia dihukum. Dengan langkah tegap dia pun maju dan memilih untuk membacakan sebuah puisi yang sempat tadi malam dikirimnya ke aku. Dia membacakannya dengan lembut dan sesekali melirik kearahku. Oh tuhan hatiku semakin berdetak kencang, aku tak pernah menyangka kejadian ini akan terjadi.
Bel yang dinantikan pun kini telah berbunyi aku pun segera keluar kelas dan pulang kerumah. Sesampainya dirumah jari-jari ini pun mengetik sms dan segera mengirimkannya ke Adi. Seiring dengan berjalannya waktu yang lumayan lama akhirnya Adi pun memintaku untuk menjadi pacarnya dan langsung ku terima dengan senangnya. Tak lama kami jadian gossip pun menyebar di sekolah, tapi kami berdua sih santai aja nanggepinnya. Hidupku terasa sangat bahagia karena cintaku tak bertepuk sebelah tangan.
(bersambung)
Komentar
Posting Komentar
Beri komentar dan tanggapan dengan bahasa yang sopan dan santun, Trim's