Langsung ke konten utama
BRTI: Tak Ada yang Gratis, RIM!
Perusah BlackBerry itu harus membayar biaya hak pakai frekuensi selama di Indonesia
RABU, 12 JANUARI 2011, 13:21 WIB
Muhammad Chandrataruna

VIVAnews - Untuk kesekian kalinya, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) dibuat berang oleh Research In Motion (RIM). Sejak pertengahan tahun lalu, perusahaan produsen BlackBerry dari Kanada itu masih belum memenuhi permintaan pemerintah untuk menempatkan server di Indonesia.

Permintaan pertama belum berhasil dipenuhi, RIM kembali diterjang masalah baru. Kali ini, perusahaan itu ditengarai tidak membayar kewajiban biaya hak pemakaian (BHP) frekuensi.

"Soal BHP frekuensi, sampai hari ini masih dievaluasi apakah BHP untuk layanan BlackBerry sudah dibayarkan RIM kepada negara apa belum," ujar anggota Badan Regulasi Telekomunikasi Indonesia (BRTI) Heru Sutadi pada VIVAnews.com, Rabu, 12 Januari 2011. "Seharusnya, RIM memenuhi kewajiban itu karena layanan mereka di Indonesia memakai frekuensi milik kita."

Selama ini, perusahaan yang berkantor pusat di Ontario-Kanada itu bisa dibilang membawa semua keuntungan yang didapatnya dari Indonesia secara penuh ke Kanada. Menurut Heru, RIM berhasil menyedot kocek para pengguna BlackBerry di Indonesia melalui operator-operator nasional tanpa memenuhi sejumlah kewajibannya kepada negara sebagai perusahaan dagang.

"Para operator, sebagai penyelenggara jaringan dan multimedia, dikenakan BHP telekomunikasi sebesar 0,5 persen dan pungutan USO (universal service obligation) untuk pembangunan Desa Berdering dan Internet sebesar 1,25 persen dari gross revenue. Selama ini, mereka memenuhi kewajiban tersebut," ujar Heru.

"Tetapi, kami belum tahu apakah kewajiban RIM sudah termasuk ke dalam kewajiban operator yang dibayarkan pada negara selama ini. Ini masih kami dalami. Kalau belum, mereka terpaksa dikenakan BHP frekuensi. Mereka tidak bisa memposisikan diri sebagaiserver center saja," jelasnya.

Menurut Heru, pungutan berupa BHP frekuensi adalah hal yang wajar. Dengan asumsi harga rata-rata sebuah perangkat BlackBerry adalah Rp2,5 juta, dikali 3 juta pelanggan, sekitar Rp7,5 triliun sudah dikantungi RIM selama berada di Indonesia.

Angka tersebut belum termasuk biaya langganan BlackBerry Internet Service (BIS) yang totalnya diperkirakan mencapai kurang lebih Rp1 triliun per tahun. "Mereka dengan bebas selama ini memakai frekuensi milik negara melalui mitra operator. Tapi, kontribusi mereka pada negara apa?" Heru mempertanyakan.

Belum lagi, pajak badan usaha yang harus dipenuhi PT RIM Indonesia. Seperti diketahui, RIM telah membuka kantor di Indonesia sekitar akhir September tahun lalu. Meski baru berusia tiga bulan, Heru mengatakan, RIM tetap harus melapor. "Mereka pasti wajib melapor ke kantor pajak. Mereka kan punya karyawan dan layanan BlackBerry yang sudah berjalan di Indonesia," ucapnya. (umi)

• VIVAnews

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CINTA ABADI

********** Masa Indah Itu Datang ********* Diawali dengan hari yang cerah tetapi hatiku tak secerah mentari yang bersinar hari ini karena tepat pada hari ini aku memulai kehidupan baru dan dengan teman yang baru pula. Aku pun tiba di SMA Negri 88 Jakarta, salah satu sekolah favorit di kota ini. Dengan langkah yang berat aku coba untuk tersenyum memasuki gerbang yang bewarna hijau itu dan berharap bertemu dengan seseorang yang ku kenal. Dan seperti dugaan ku tak ada seorang pun yang ku kenal di sekolahku ini. Bel berbunyi dan yang lebih malesin adalah upacara! Oh my god... aku pun memilih baris di barisan paling depan. Tiba-tiba di sebelahku sudah ada seorang lelaki yg menurutku lumayan menarik, aku pun berusaha mengalihkan pandanganku dari lelaki tersebut. Upacara pun selesai, upacara kali ini berlangsung cepat karena ini adalah upacara perdana di tahun ajaran baru ini. Aku pun menuju kelas yang sudah diarahkan guru-guru dan senior-seniornya. Sesampainya di kelas aku merasa kaget bah...

Tahun 3000, Permukaan Air Laut Naik 4 Meter

Dampak pemanasan global yang tak terhindari akan meruntuhkan lapisan es di Antartika Barat Muhammad Chandrataruna Gunung es di Antartika mencair (Corbis) VIVAnews - Permukaan air laut secara global akan naik setidaknya 13 kaki, atau setara 3,96 meter, pada 1000 tahun mendatang. Kesimpulan diperoleh setelah sejumlah ahli meneliti sejumlah hal. Dari trend kenaikan permukaan laut hingga lapisan es di Antartika. Para ahli itu menyebutkan bahwa kenaikan permukaan air laut itu disebabkan oleh emisi karbon dioksida yang terus-terusan dipompa ke atmosfer. Emisi itulah yang menyebabkan runtuhnya es di Antartika Barat, yang diperkirakan akan terjadi sekitar tahun 3000. Jika itu terjadi, maka volume air laut naik dan mungkin saja akan terjadi bencana. Bahkan, "Lapisan es Antartika kemungkinan besar akan runtuh lebih cepat. Dan efek dari inersia (kelembaban) perubahan iklim yang sebenarnya akan jauh lebih buruk," kata Profesor Shawn Marshall, pemimpin studi dari University of Calgary ...
TEMPAT ID CARD DAN YOYO SUPER MURAH QUANTITY Rp. 4000 (NEGO)